39# SERENADA EMBUN HITAM
kita temui basahnya
bisikan-bisikan
merayapi dada halimun,
menyutra larik embun
dan tertinggal melodi di alun-alun
bising nguliti masih
noktah-noktah pasih
meminjamkan babak-babak konflik
yang disembunyikan
dari pementasan
dari aktor muda yang dibunuh impian
membacakan kesunyian
menyanyikan kebisuan
kita mulai dengan renda merah tua
yang terbuka
rumah unggun mendekor langit
dengan kuas jingga mega megah saga
mencoba menggoreskan pena
alur surai angin menjadi senjata,
menidurkan bulan, menjajakan bintang
dan memuliakan selongsong-selongsong
kosong
kala atmosfir berbau mesiu
hunusan inang surya
kembali membangkai
di tirus mega
lafalan mata
masih manja mendeskripsikan khotbah
sungai
dari malamku yang bertikai
serdadu-serdadu abu-abu
menderap pilu di ujung desa
mengongkang laras-laras
pancang
dan menembakkan kehenyakan yang
magis
di surau, di kuil, di kapel, di
pura, di jiwa yang terlupa
ku coba membangunkan puing-puing
ringkih ketika angin datang dan
mengerang kering
pertangkai embun menyusuri kulit ari
bubuhan tiara embun pasih meniduri
dedaunan terpetiki
menampung tetes yang kemaren cuma
genangan
hari ini, menjadi lautan
sumbu-sumbu netra mulai mengumpulkan
khazanah
lapuknya pagi ku timang dalam krutan
sejadah
biakan kerinduan menimpa atap-atap
rumbia
membawa kifrah batin yang nyata
menancap nyata
bulan pulang menjanda
adinda mengantarnya di atas balkon
raut sintal bunga pagi melanda
bersama adinda, syahadat hati
kutulis pelan
dalam ketulusan serenada

Tidak ada komentar:
Posting Komentar