Kamis, 14 Februari 2013

Serenada Embun Hitam - puisi cinta



39# SERENADA EMBUN HITAM
oleh Fauzil Shin pada 8 Februari 2012 pukul 9:50 ·

kita temui  basahnya bisikan-bisikan
merayapi dada halimun,
menyutra larik embun
dan tertinggal melodi di alun-alun

bising nguliti masih
noktah-noktah pasih
meminjamkan babak-babak konflik
yang disembunyikan
dari pementasan
dari aktor muda yang dibunuh impian

membacakan kesunyian
menyanyikan kebisuan

kita mulai dengan renda merah tua yang terbuka
rumah unggun mendekor langit
dengan kuas jingga mega megah saga
mencoba menggoreskan pena
alur surai angin menjadi senjata,
menidurkan bulan, menjajakan bintang
dan memuliakan selongsong-selongsong
                                                    kosong
kala atmosfir berbau mesiu

hunusan inang surya
kembali membangkai
di tirus mega
lafalan mata
masih manja mendeskripsikan khotbah sungai
dari malamku yang bertikai

serdadu-serdadu abu-abu
menderap pilu di ujung desa
mengongkang laras-laras pancang
dan menembakkan kehenyakan yang magis
di surau, di kuil, di kapel, di pura, di jiwa yang terlupa

ku coba membangunkan puing-puing
ringkih ketika angin datang dan mengerang kering
pertangkai embun menyusuri kulit ari
bubuhan tiara embun pasih meniduri
dedaunan terpetiki
menampung tetes yang kemaren cuma genangan
hari ini, menjadi lautan

sumbu-sumbu netra mulai mengumpulkan khazanah
lapuknya pagi ku timang dalam krutan sejadah
biakan kerinduan menimpa atap-atap rumbia
membawa kifrah batin yang nyata menancap nyata

bulan pulang menjanda
adinda mengantarnya di atas balkon
raut sintal bunga pagi melanda
bersama adinda, syahadat hati kutulis pelan
dalam ketulusan serenada

Tidak ada komentar:

Posting Komentar